Cinta dan Adat Beradu: Saat Manurung Tidak Boleh Menikah dengan Marga, Tapi Hati Berkata Lain

manurung tidak boleh menikah dengan marga
Seorang wanita bermarga Manurung dan pria bermarga Sitorus berdiri berhadapan di tepi Danau Toba. Ulos di bahu mereka menjadi simbol adat Batak yang tetap dijunjung, bahkan di tengah cinta yang penuh tantangan.

Di tepian Danau Toba, menjelang matahari tenggelam di balik bukit Balige, seorang gadis bermarga Manurung berdiri menatap lembayung jingga. Angin danau berhembus pelan, membawa aroma tanah basah dan riuh suara gondang dari kejauhan. Di sebelahnya, seorang lelaki berdiri diam—bermarga Sitorus, sosok yang membuat jantungnya bergetar.

Namun cinta mereka tidak sederhana.
Bukan karena restu orang tua, bukan pula karena harta.
Melainkan karena satu hal yang tak kasat mata tapi begitu kuat: adat.

“Kami memang saling mencintai,” ucap sang gadis dengan mata berkaca,
“tapi kata orang tua, Manurung dan Sitorus itu satu kelompok marga — tidak boleh menikah.”

Mengapa Manurung Tidak Boleh Menikah dengan Marga?

Menurut penelitian dari Universitas Sumatera Utara (USU), larangan menikah satu marga — atau yang sering disebut perkawinan semarga — berakar dari sistem kekerabatan Batak Toba yang sangat kuat.
Dalam sistem ini, setiap orang lahir dengan identitas marga dari garis ayah (patrilineal), dan orang semarga dianggap masih satu darah.

“Menurut Badan Bahasa Kemenbud, istilah semarga berarti satu keturunan atau satu rumpun keluarga dari leluhur yang sama.”

Larangan ini bukan sekadar aturan kuno, melainkan cara leluhur menjaga agar garis keturunan tidak bercampur dan tetap jelas. Dalam masyarakat Batak Toba, ada pepatah yang berbunyi:

“Na so maradat, so marhonorhon” — yang tidak beradat, tidak akan dihormati.

Sistem Dalihan Na Tolu

Dalam adat Batak Toba, kehidupan sosial diatur oleh Dalihan Na Tolu, sistem tiga pilar yang terdiri dari:

  • Hula-hula (pihak keluarga istri, dihormati),
  • Boru (pihak yang diberi istri),
  • Dongan tubu (saudara semarga).

Karena itulah, menikah dengan dongan tubu atau semarga dianggap sama seperti menikahi saudara sendiri.

“Menurut Dewan Adat Batak (2024), larangan ini menjaga tatanan Dalihan Na Tolu agar tidak runtuh.”



Cinta vs Adat: Ketika Hati Tak Bisa Dipaksa

Di banyak daerah seperti Balige, Laguboti, dan Porsea, aturan ini masih dijaga ketat. Tapi, di zaman sekarang, cinta tidak lagi mengenal batas jarak, status, bahkan marga.

Bayangkan kisah berikut:

Rosa Manurung, gadis 26 tahun asal Laguboti, jatuh cinta pada Doni Sitorus — rekan kerjanya di Medan. Awalnya, semua tampak biasa saja. Tapi ketika mereka memutuskan untuk serius, masalah mulai muncul.

“Orang tuaku bilang kami semarga. Aku tidak boleh menikah dengannya,” kata Rosa pelan.
“Padahal aku yakin… dialah jodohku.”

Menurut penelitian dari ResearchGate (2023), kasus seperti Rosa bukan hal langka. Banyak pasangan Batak modern yang menghadapi dilema antara cinta dan adat. Beberapa memilih berpisah, sementara yang lain berjuang mencari titik tengah: berdialog dengan tokoh adat, menelusuri tarombo (silsilah), hingga meminta izin khusus kepada keluarga besar.

Menurut ayoknikahcom, ini adalah potret nyata bagaimana adat dan cinta saling bersinggungan. Cinta tidak selalu harus melawan adat — kadang ia hanya butuh ruang untuk didengar dan dimaknai ulang.

Ketika Adat Dihormati, Tapi Cinta Diperjuangkan

Beberapa tokoh adat Batak mengatakan bahwa setiap larangan adat punya akar, tapi juga punya ruang untuk musyawarah.

“Menurut Dewan Marga Parna, jika dua orang dianggap semarga tapi sudah jauh secara garis keturunan, maka keputusan bisa diserahkan kepada musyawarah keluarga besar,” tulis sebuah laporan budaya Kemenbud tahun 2024.

Itulah yang dilakukan Rosa dan Doni. Mereka mendatangi tokoh adat, membawa silsilah keluarga besar. Setelah ditelusuri, ternyata hubungan mereka sudah terpisah lebih dari 10 generasi.

Dengan restu adat dan doa keluarga, pernikahan mereka pun digelar di tepi Danau Toba — sederhana tapi penuh makna. Gondang Batak dimainkan, dan ulos disematkan di pundak mereka oleh hula-hula dengan senyum bangga.

“Cinta mereka tidak melawan adat,” kata sang raja parhata (pembicara adat),
“mereka justru membuktikan bahwa adat bisa berdialog dengan zaman.”

Apa Kata Akademisi dan Ahli Budaya?

Menurut Universitas Negeri Medan (Unimed), larangan perkawinan semarga bukan untuk mengekang, tapi menjaga tatanan sosial. Namun dalam konteks modern, batas-batas ini bisa dilihat lebih fleksibel — dengan tetap menghormati nilai budaya.

Menurut ayoknikahcom, yang terpenting adalah niat baik dan rasa hormat.
Karena cinta tanpa adat bisa kehilangan akar, tapi adat tanpa cinta akan kehilangan makna.

Beberapa pakar juga menekankan bahwa:

  • Adat Batak adalah budaya hidup (living culture), bukan hukum yang kaku.
  • Dialog antar generasi dan tokoh adat penting agar tradisi tetap relevan.
  • Perkawinan yang didasari cinta dan musyawarah lebih diterima oleh komunitas Batak modern.

Panduan untuk Pasangan Batak Masa Kini

Kalau kamu sedang berada di posisi yang sama seperti Rosa dan Doni — ini langkah-langkah bijak agar cinta dan adat tetap berjalan seirama:

  1. Telusuri Tarombo (Silsilah Keluarga)
    Pastikan kamu tahu dari kelompok mana asal margamu. Misalnya, Manurung termasuk dalam kelompok Narasaon, bersama Sitorus, Sirait, dan Butar-Butar.
    Jadi kalau pasanganmu salah satu dari marga itu, perlu konsultasi adat.
  2. Bicara Baik-Baik dengan Hula-Hula dan Tokoh Adat
    Mereka bukan penghalang, tapi penjaga nilai. Jelaskan perasaanmu dengan sopan dan terbuka.
  3. Libatkan Keluarga Besar
    Dalam adat Batak, keluarga bukan sekadar pendamping, tapi bagian dari keputusan besar. Restu mereka penting.
  4. Pahami Aturan Negara dan Adat
    Secara hukum negara, menikah semarga sah-sah saja. Tapi kalau ingin adat tetap berjalan, hormati proses adat.
  5. Jaga Niat dan Sikap
    Kalau memang cinta sejati, jangan pernah malu meminta restu dengan cara yang benar.

“Menurut ayoknikahcom, menikah bukan hanya menyatukan dua hati, tapi dua sejarah dan dua marga.”

Makna yang Lebih Dalam dari Sekadar Larangan

Cinta dalam masyarakat Batak bukan hanya soal dua orang, tapi dua keluarga besar. Karena itu, larangan semarga bukan sekadar “tidak boleh”, tapi simbol penghormatan terhadap leluhur.

Namun zaman terus berubah. Banyak anak muda Batak kini belajar menafsirkan ulang adat mereka — bukan untuk menghapusnya, tapi agar lebih relevan dengan kehidupan modern.

“Menurut Balitbang Kebudayaan (2024), adat Batak Toba kini bergerak dari bentuk ‘larangan keras’ menjadi ‘dialog terbuka’ antara generasi tua dan muda.”

Mungkin benar, cinta bisa beradu dengan adat. Tapi bukan berarti salah satu harus kalah. Kadang, keduanya bisa berdamai di titik tengah — di mana adat dihormati, cinta tetap dirayakan.

FAQ

Mengapa orang Batak dilarang menikah satu marga?

Karena sistem marga Batak bersifat patrilineal — dianggap masih satu darah dan satu keturunan.

Apakah Manurung boleh menikah dengan Sitorus atau Sirait?

Secara adat, mereka satu kelompok (Narasaon), sehingga perlu izin atau musyawarah adat terlebih dahulu.

Jika tetap menikah, apakah sah menurut negara?

Sah secara hukum, tapi mungkin tidak diakui secara adat. Biasanya pasangan akan diberi sanksi sosial ringan.

Apakah larangan ini masih berlaku di kota besar seperti Medan atau Jakarta?

Mulai longgar. Banyak keluarga kini lebih fleksibel selama ada musyawarah dan restu keluarga.

Bagaimana cara memastikan marga pasangan tidak satu kelompok?

Tanyakan pada tetua adat atau telusuri silsilah tarombo keluarga. Banyak komunitas Batak kini menyediakan database online untuk hal ini.

Pada akhirnya, cinta dan adat bukan musuh.
Keduanya sama-sama lahir dari rasa hormat:
hormat kepada hati, dan hormat kepada asal-usul.

Bagi Rosa dan Doni, Danau Toba bukan hanya saksi cinta mereka — tapi juga saksi bahwa tradisi bisa hidup berdampingan dengan perasaan.
Bahwa cinta yang tulus tidak melawan adat, melainkan menuntunnya untuk tumbuh lebih bijak.

“Karena adat tanpa cinta adalah batu,
dan cinta tanpa adat adalah air yang hilang arah.”

Rekomendasi untuk Pasangan yang Akan Menikah di Toba:

  1. Hotel Sere Nauli Balige – Rp650.000/malam, suasana romantis di tepi danau.
  2. Toba Lake Resort Laguboti – Rp820.000/malam, cocok untuk honeymoon dengan nuansa Batak modern.
  3. Ulos Cultural Stay, Balige – Rp500.000/malam, tempat belajar adat sambil menikmati budaya Batak Toba.

Profil Penulis

Nama: Irfansyah Manurung
Bidang: Penulis & Peneliti Budaya Pernikahan Adat Indonesia
Spesialisasi: Adat Batak, Filosofi Cinta & Perkawinan Nusantara
Kontak: irfan@kitaberdua.wedding
Sumber Referensi:

  • Universitas Sumatera Utara (2024)
  • Kemenbud dan Balitbang Kebudayaan
  • ResearchGate (2023)
  • Dewan Adat Batak (2024)
  • ayoknikahcom